Jumat, 08 Juli 2016

Cerpen ~ Lost Dream

 Lost Dream ~ Cerpen

Dela, dialah gadis yang sangat ambisius, gadis dengan segudang mimpi dan khayalan yang tersusun rapi di setiap seluk beluk otak cerdasnya.

'Bermimpi itu indah' adalah kalimat yang selalu ia banggakan dalam dunianya.

Jika dilihat secara sepintas, bukankah ia gadis yang beruntung karena telah memiliki perencanaan kehidupannya di masa depan? Tentu! Ia adalah segelintir dari sekian banyak remaja yang bisa berfikir jauh untuk menentukan cita-citanya sedini mungkin, tapi tidakkah kaliah tau?

Ia berusaha keras mengejar dalah satu mimpinya untuk menjadi seorang penulis sebenarnya untuk membanggakan ibunya.

Ya, ibunya tak pernah sekalipun merasa bangga pada dirinya, ia hanya 1 dari 3 bersaudara yang tak pernah menjadi 'anak favorit'. Oleh karenanya ia berusaha untuk bisa memperoleh penghasilan sendiri meski masih SMA hanya sekedar untuk membuat sang ibu bangga.

"Dela, bagaimana perkembangan novelmu?" Tanya Fisa -sahabat dela- dengan antusias membuyarkan lamunan panjang gadis itu

"Aku sudah menyelesaikan 3 bab! Kau tau? Aku sangat bahagia saat ini." Ucap Dela antusias
Ya, saat ini Dela memang sedang mengerjakan novel perdananya. Seburuk apapun moodnya, akan seketika membaik jika membahas tentang novel.

"Benarkah?! Astaga, aku sudah sangat tidak sabar membacanya, kau tau kan aku sudah menjadi fans mu sejak kita pertama kali bertemu." 

Dela terkekeh mendengar penuturan sahabatnya itu "Kau berlebihan"

"Apa kau sudah menyampaikan hal ini pada ibumu? Pasti dia akan bangga." 

Seketika mood Dela hancur berkeping-keping mendengar pertanyaan sahabatnya itu
"Tidak semudah itu. Kau pikir ia akan bangga padaku hanya karena tulisan ini? Ia hanya akan menganggap hal ini sebagai salah satu dari sekian banyak impian konyolku. Kau ingat kan aku pernah dicaci maki olehnya karena bercita-cita menjadi pramugari?" Ungkap Dela kesal, bagaimana sahabatnya bisa berpikir sependek ini?

"Hey, pramugari dan penulis itu berbeda jauh. Aku bahkan setuju jika beliau melarangmu menjadi pramugari, tidakkah kau sadar bahwa tinggi badanmu itu tidak mencukupi persyaratan menjadi pramugari?"

Dela mendelik kesal ke arah Fisa "bukan 'tidak' tapi 'belum'."

Tawa Fisa pecah seketika mendengat pembelaan yang dilontarkan Dela "Bahkan hingga kini kau masih percaya diri akan bertambah tinggi, kau pikir kau masih SMP? Sadarlah kawan. Kau berada di bangku SMA sekarang. Lagipula jika memang kau akan bertambah tinggi, itu tidak akan jauh berbeda dari sekarang."

"Ya ya ya. Terserah kau, nona. Bagaimana kalau sekarang kita ke cafe?"

"Kau yang bayar, ya?"

Dela memutar bola matanya malas "ya"

"Yeyy! Tak ada yang lebih membahagiakan dari makanan gratis." Ucap Fisa lalu melompat-lompat kecil layakya bocah. Dela hanya menggelengkan kepalanya tanda tak habis pikir dengan mental age yang dimiliki sahabatnya.


********


"Apa menurutmu aku harus menyampaikan ini pada ibuku?" Dela membuka suara menghentikan aksi makan Fisa

"Menyampaikan apa?"

Dela menghela nafas panjang "tentang tulisan itu,"

"Tentu saja, bodoh. Lagipula, kenapa kau tak pernah menunjukkan kejeniusanmu? Kau selalu saja menyembunyikan kemampuanmu pada semua orang."

"Bukankah aku sudah mengatakannya berkali-kali? Aku tidak ingin hidup sebagai primadona, aku ingin tampil berbeda dari kakak dan adikku."

"Huh, tadinya kukira kau memiliki alasan yang sedikit lebih logis."

Dela hanya mengangkat bahunya sebagai balasan

"Jadi, bagaimana? Apa kau akan mengatakannya?"

Dela berfikir sejenak "apa kau yakin ibuku akan merubah pandangannya terhadapku?" 

"Tentu saja! Kupastikan kau akan menjadi penulis terkenal setelah ini. Dan aku akan menjadi orang pertama yang membaca karya-karyamu." Jawab Fisa tersenyum sumringah
"Baiklah. Akan kucoba."


********


"Aku pulang." Ucap Dela memasuki rumahnya

Lagi lagi ia harus menghela nafasnya, seharusnya tadi ia tak berteriak, toh bagaimanapun ia tak akan dianggap ada disini. Orang-orang di rumah ini akan memandangnya sebelah mata karena dianggap tak memiliki IQ yang tinggi, padahal sebenarnya ia jenius tapi tak ingin memperlihatkannya hanya karena 1 alasan klise nan aneh:

Tak ingin menjadi primadona.

Ia melangkah menuju kamarnya untuk mengganti baju lalu turun menemui ibunya yang sedang berada di ruang tengah sambil membaca koran

"Bu, aku ingin mengatakan sesuatu." Ucapnya setelah mengambil tempat tak jauh dari sang ibu

"Apa?"

"Aku ingin menjadi penulis, aku juga berencana membuat novel, aku bahkan sudah menyelesaikan 3 bab, bagaimana menurut ibu? Bukankah bagus jika aku memiliki penghasilan meski masih SMA?" Tanya Dela berusaha terlihat antusias

"Apakah kau masih sering berkutat dengan imajinasi bodohmu? Bukankah ibu pernah bilang untuk fokus pada bidang akademik saja? Nilai matematikamu bahkan tak pernah menyentuh angka sempurna, kau pikir dengan menjadi penulis bisa meningkatkan nilai matematikamu? Seharusnya kau sadar, diantara 3 bersaudara hanya kau yang tak bisa membanggakan ibu. Kakak dan adikmu memiliki piala yang tak terhitung, sedangkan kau? Hanya bisa menyampaikan khayalan-khayalan bodohmu kepada ibu, tidakkah kau malu pada dirimu sendiri?" Balas Sang ibu berapi-api lalu melangkah menunggalkan anaknya yang sedang merasa tertusuk ribuan pedang

"Apakah kecerdasan hanya akan terhitung lewat piala? Jika aku mau, aku bahkan bisa lebih, tapi aku tak pernah ingin melakukannya." Gumam Dela lalu menghembuskan nafasnya kasar dan bangkit meninggalkan tempat yang baru saja ia kutuk


********


Disinilah ia sekarang, sendirian diatas jembatan dengan pandangan yang tertuju pada sungai yang berada di bawahnya. Ia menumpahkan segala rasa sedihnya pada angin malam, bermonolog disertai air mata yang tertumpah, meratapi kehidupan yang tak pernah ia inginkan namun harus ia jalani.

"Seharusnya aku tak mengatakan itu pada ibu. Seharusnya aku tak mengikuti saran Fisa, seharusnya aku tak menyembunyikan kemampuanku, seharusnya aku tak pernah di lahirkan." Ucapnya entah pada siapa

"Apa yang salah dari mimpi-mimpiku? Toh aku tak pernah bermimpi menjadi putri istana atau permaisuri raja, aku hanya bermimpi menjadi satu dari sekian banyak orang-orang sukses didunia ini, apakah itu salah?"

"Kenapa ibu mesti mengukur kecerdasan dari banyaknya piala? Hiks hiks." gadis itu tersedu-sedu

"Untuk apa aku hidup jika keadannya tetap begini?"

Hening sejenak

"Ya, untuk apa aku hidup?" Ucapnya menyeringai seakan telah mendapatkan sebuah ide gila

Dan sialnya, ia benar-benar mendapatkannya

Perlahan tapi pasti ia memastikan bahwa tak ada orang yang mungkin melihatnya, lalu setelah itu ia manjat pada pinggir jembatan yang ia tempati.

Gadis itu kemudian merentangkan tangannya dengan senyum lebar yang pernah di keluarkannya sekaligus senyum terakhirnya setelah itu ia menjatuhkan diri ke air yang terlihat sangat jernih itu

"Selamat tinggal penderitaan, selamat datang kebahagiaan."

Dan setelah itu seorang Dela Mahendra hanyalah tinggal nama yang pernah hidup di dunia dengan nasib yang tak bahagia.

~End~